Minggu, 08 Maret 2009

Musikalisasi Puisi: Kebebasan Menafsir Kata dan Nada

Dimuat Harian Sumatera Ekspres Edisi Minggu 8 Maret 2009


Musikalisasi Puisi:

Kebebasan Menafsir Kata dan Nada


Oleh Suharno



Menyaksikan musikalisasi puisi “O Amuk Kapak” karya Sutardji Calzoum Bahri yang digelar Hipnotizz selama tiga hari, terhitung sejak Jumat (6/3) hingga hari ini (8/3), di Graha Budaya Jakabaring Palembang, sungguh menyejukkan hati. Pergelaran itu memang sarat dengan eksperimen musikalitasnya, di mana kata dan nada senantiasa ditonjolkan hingga mampu menembus ruang imajinasi penonton. Nuansa bunyi yang bersumber dari alat musik seperti recorder, gitar, biola, sapu lidi, hingga botol ternayat dapat disinergikan dengan kata-kata pada puisi. Sebelumnya, dua puisi pengantar karya Z.A. Narasinga dan Acep Zamzam Noor turut mengawali pembukaan musikalisasi puisi Sutardji Calzoum Bahri. Kendatipun demikian, jika dilihat dari kacamata awam, performing art yang diusung Muhammad Indra Aziz dkk itu menyerupai fragmen-fragmen, karena penanda antara satu puisi dengan puisi lain yang dibawakan belum begitu dipertegas. Sehingga, jurang kejenuhan bahkan kesulitan penonton untuk mengerti apa yang disampaikan para pelakon sangat lebar. Di sinilah letak eksperimen yang dilakukan kelompok Hipnotizz, yakni keberanian membebaskan imajinasi penonton untuk menerima pesan yang disuguhkan. Dengan kata lain, penonton dibiarkan kreatif dan “nakal” untuk menjelajahi nalar dan imajinasinya. Tidak hanya penonton yang sudah mengenal atau menganalisis puisi-puisi Sutardji yang dapat mengerti pertunjukan Hipnotizz, tapi penonton awam sekalipun dibiarkan memberikan pemahaman tersendiri tanpa harus membaca buku O Amuk Kapak sebelumnya. Diketahui, puisi Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri yang terkenal dengan kredo puisi dan unsur-unsur mantra tanpa disadari dapat dikembalikan ke akar tradisi. Kata-kata mantra dalam puisi Sutardji seringkali berupa nonsense yang dipergunakan untuk menimbulkan daya magis dalam puisinya. Akan tetapi, kata-kata mantra yang berdaya magis itu juga dapat digunakan untuk memanggil Tuhan seperti dalam sajaknya yang berjudul “Amuk”. Ia bisa lugas mempertanyakan hakikat Tuhan, seperti saat Sutardji mengalegorikan kondisi masyarakat ke dalam bentuk kucing yang kelaparan, atau menjadikan kucing sebagai simbolisasi pencarian Tuhan. Dalam puisi tersebut, kucing merupakan kiasan semangat manusia dahulu hingga sekarang dalam mencari Tuhan, meski tidak pernah tercapai tetapi ia terus mencari. Begitulah, untuk memanggil “Tuhan” digunakan kata-kata mantra yang berupa nonsense guna memengaruhi alam gaib hingga Kau (baca: Tuhan) datang pada si aku. Sementara sajak “Sepisaupi” dapat diartikan sebagai bentuk perenungan kepada Tuhan. “Sepisaupi” merupakan gabungan dari kata sepi, pisau, dan pikul yang digabung menjadi sepisaupi. Dalam arti, sepi itu seperti pisau yang mengiris dan dosa itu begitu beratnya bagai barang sepikul. Rasa dosa itu menimbulkan rasa duka dan sepi yang menusuk dan mengiris bagai pisau. Rasa dosa itu timbul dalam diri (si aku) karena tusukan pisau-Nya (baca: panggilan atas peringatan Tuhan kepada manusia seperti pisau yang menusuk). Sutardji Calzoum Bachri (1941) adalah penyair Indonesia terkemuka. Setelah lulus SMA Sutardji Calzoum Bachri melanjutkan studinya ke Fakultas Sosial Politik Jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran, Bandung. Awalnya, Sutardji Calzoum Bachri menulis dalam surat kabar dan mingguan di Bandung, kemudian sajak-sajaknya dimuat dalam majalah Horison dan Budaya Jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana. Pada 1974, Sutardji Calzoum Bachri mengikuti Poetry Reading International di Rotterdam. Kemudian ia mengikuti seminar International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat dari Oktober 1974 sampai April 1975. Sutardji juga memperkenalkan cara baru yang unik dan memikat dalam pembacaan puisi di Indonesia, yakni Kredo Puisi. Dalam hal ini Sutardji beranggapan bahwa kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Kata adalah pengertian itu sendiri dan bebas. Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian. Dalam puisi Sutardji membebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor serta penjajahan gramatika. Hal itu untuk memberikan kebebasan dalam berkreativitas. Kredo Puisi Sutardji inilah yang dijadikan hipogram dalam konsep pemanggunan Hipnotizz. Tidak hanya kata-kata, tapi nada-nada dalam musikalisasi puisi karya Sutardji juga dapat ditafsirkan secara bebas oleh penonton. (*)

Penulis adalah guru SMP LTI IGM Palembang

Minggu, 04 Januari 2009

Kolaborasi Tiga Dalang di Palembang

Kolaborasi Tiga Dalang di Palembang

Mainkan Lakon: Wahyu Tirto Manik Mayo Mahadi



Ki Suparno ketika memulai pergelaran


Penampilan tiga dalang, yakni Ki Suparno Wonokromo, Ki Cahyo Wibisono dan Ki Yatin Hadi Karsono, memukau para penggemar wayang kulit di Palembang kemarin malam (3/1). Pergelaran ini dalam rangka ulang tahun pernikahan emas yang ke-53 tahun pasangan M Ngaspuri dan Sartini di Jl Boster KM 12 Palembang.

Tiga dalang yang memainkan lakon “Wahyu Tirto Manik Mayo Mahadi” dibuka dengan penampilan Ki Suparno Wonokromo, dilanjutkan penampilan Ki Cahyo Wibisono dan ditutup Ki Yatin Hadi Karsono.

Ki Yatin Hadi Karsono


Ringkasan lakon tersebut menceritakan tentang peperangan yang terjadi antara Pandawa dan Kurawa dalam Perang Barata Yuda. Keraguan Prabu Duryudana atas perang Barata Yuda terkurangi oleh kedatangan Begawan Gora Dahono, karena bersedia membantu para Kurawa untuk menumpas para Pandawa yang pada saat itu sedang menjalani tapa brata (Semedi). Tetapi hal ini ditentang oleh Bisma dan Durna, s

ebab mereka berdua mempunyai maksud untuk menyatukan saudara yang telah lama berselisih.

Niat Begawan Gora Dahono tidak begitu mulus karena dihambat para putra-putra Pandawa yang telah mengerti maksud dan tujuan Prabu Duryudana.

Ki cahyo Wibisono


Di lain tempat para pandawa yang sedang bertapa juga mengalami kebimbangan, karena sang penasehat (Prabu Kresna) yang selama ini banyak sering para Pandawa hilang entah kemana.

Slamet


Sang Hyang Wenang tiba-tiba berada di depan Prabu Kresna, menyampaikan bahwa Sang Hyang Wenang akan memberikan anugerah kepada Puntadewa karena telah berhasil melaksanakan ajaran “Wita Radya” dengan perantara Prabu Kresna.

Tamu undangan penikmat wayang


“Dalam lakon tersebut mengajarkan kepada kita bagaimanapun kebaikan akan selalu menang melawan keburukan. Selain itu, persatuan yang ditunjukkan oleh Putra Pandawa dalam peperangan dan merebut kemenangan, maksudnya sebuah persoalan bila diselesaikan dengan bersatu maka hasil yang didapat akan berupa kebahagiaan,” ujar Ki Yatin mewakili dua dalang lainnya.

Tuan rumah M Ngaspuri bersama istri Sartini paling kiri


Ditempat yang sama Slamet Riyadi selaku besan dari pasangan M Ngaspuri dan Sartini mengungkapkan rasa bahagianya karena kedatangan dan kesediaan tiga dalang yang bersangkutan khususnya Ki Suparno Wonokromo dalam pagelaran wayang kulit yang dimaksud. “Kita awalnya tidak menyangka Pak Parno (Ki Suparno Wonokromo,red) dapat hadir. Karena beberapa hari sebelumnya beliau sedang berada di luar kota, jadi dengan kedatangan beliau menambah kebahagiaan kedua pasangan,” jelasnya. (mg23)

Suwandi, pemerhati wayang kulit diapit Ki Yatin Hadi Karsono dan Ki Cahyo Wibisono sebelum tampil


Kamis, 16 Oktober 2008

Sambutan Ketua Panitia Penyelenggara Pergelaran

Wayang Kulit Semalam Suntuk Di TVRI Palembang,

Sabtu 18 Oktober 2008

-----------------------------------------

Assalamualaikum wr wb

Dan salam sejahtera untuk kita semua

Yang terhormat bapak walikota Palembang

Yang terhormat bapak Kepala Stasiun TVRI Palembang

Yang kami hormati bapak kepala dinas pariwisata dan kebudayaan kota Palembang

Yang kami hormati bapak ketua pepadi komda Sumsel

Yang kami hormati bapak ketua pepadi komda Palembang





----------------------------------

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena rahmat serta hidayah-NYA, kita dapat dipertemukan pada hari yang berbahagia ini. Rasa gembira dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami haturkan bapak-ibu dan hadirin sekalian yang berkenan hadir dalam acara Pergelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk bersama dalang Ki Suparno Wonokromo, sinden dari Amerika Serikat, Karen Elizabeth Sekar Arum dan Pelawak Gareng Sumarbagyo dan Bagong dari Semarang.

Bapa-ibu serta para hadirin yang kami muliakan. Pergelaran Wayang Kulit Semalam suntuk ini, diselenggarakan oleh Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Komisariat Daerah (Komda) kota Palembang bekerja sama dengan TVRI stasiun Palembang. Dalam hal ini, kami selaku panitia penyelenggara mengucapkan terima kasih kepada bapak kepala stasiun TVRI Palembang sebagai mitra kerja Pepadi, yang telah memberikan bantuan berupa fasilitas siaran live demi terlaksananya pergelaran ini.

Bapak ibu hadirin yang kami muliakan.

Pergelaran tahun ini, kami tidak mengambil tema apapun, pergelaran ini merupakan rangkaian program kerja Pepadi masa bhakti 2005-2008. Kegiatan ini dilakukan dalam upaya peningkatan dan pengembangan seni pedalangan dan unsure pendukungnya.

Upaya peningkatan dan pengembangan seni pedalangan kota Palembang selama 3 tahun (2005-2008) ini, berbagai kegiatan sudah kami laksanakan dengan sukses, antara lain Pepadi kota mengirim dua pengurus Pepadi untuk mengikuti kongres wayang di Jogjakarta pada September 2005. Selanjutnya pada Januari sampai desember 2006, bekerja sama dengan RRI stasiun Palembang menyelenggarakan pagelaran wayang kulit setiap akhir bulan, selama 12 kali pagelaran untuk mengevaluasi kemampuan seniman pedalangan kota Palembang.

Pada Desember 2006, memberikan bantuan sarana pelatihan bagi seniman pedalangan para pengrawit dan sejumlah swarawati dalam hal ini, bapak Suparno Wonokromo mendirikan sanggar seni dilengkapi dengan peralatan terdiri dari seperangkat gamelan dan wayang kulit.

Pada Januari 2007 sampai saat ini, secara rutin (malam rabu) menyelenggarakan pelatihan, baik terhadap seniman pedalangan, para pengrawit dan sejumlah swarawati dengan pelatih bapak Triyanto S. Kar dan bapak Tugiran. Latihan ini diharapkan dapat meningkatkan ketrampilan bagi seniman, dan wahana pembelajaran bagi generasi muda.

Pada 10-11 Februari 2007, Pepadi Kota menyelenggarakan Festival dalang Kota Palembang dengan mendatangkan Dewan Juri dari Surakarta Bapak Sudirman Ronggo Darsono dan Bapak Putut Sudarsono serta R Dalyono Anggota Dewan Kebijaksanaan SENAWANGI, guna mengevaluasi kemampuan para seniman pedalangan di kota Palembang. Berdasarkan hasil festival dalang pada Februari 2007, maka pepadi kota Palembang memiliki program lanjutan yaitu menyelenggarakan Sarasehan dalang Wayang Kulit 2008 dengan mendatangkan Ki Manteb Sudarsono, Ki Sudirman Ronggo Darsono dan Ki Putut Wijonarko. Harapan sampai pada bulan berikutnya atau satu tahun ke depan, para seniman pedalangan dan unsure pendukungnya telah menjadi seniman yang professional dalam arti siap pakai dengan kemampuan yang dimiliki.

Berdasarkan uraian tersebut menurut hemat kami, Bapak Suparno Wonokromo telah banyak berbuat dan ikut serta menumbuhkembangkan para seniman pedalangan khususnya di kota Palembang. Hal tersebut jelas bahwa pepadi kota Palembang telah ikut serta melestarikan seni pedalangan kekayaan budaya bangsa Indonesia yang adi luhung.

Bapak-ibu hadirin yang kami muliakan,

Yang terakhir, atas terselenggaranya Pergelaran Wayang Kulit Semalam suntuk, senantiasa restu dan dukungan dari semua pihak agar Pergelaran ini berjalan lancar. Semoga di dalam penyelenggaraan ini senantiasa mendapatkan bimbingan dan petunjuk dari Allah SWT dan bilamana ada kekurangan dalam penyelenggaraan ini kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Akhirul kata, Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Palembang 18 Oktober 2008

Ketua Panitia Penyelenggara

Pergelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk

Triyono Junaidi

Bos Sumeks Grup dan Sinden Bule AS

Bos Sumeks Grup dan Sinden Bule AS

Bakal Gebrak TVRI Palembang

* Dihibur Pelawak Gareng Sumarbagyo dan bagong dari Semarang

Ki H Suparno Wonokromo, CEO Jawa Pos Indonesia Timur, yang juga bos Harian Sumatera Ekspres (Sumeks Grup, Harian Sumatera Ekspres, Palembang Pos, Radar Palembang, Palembang Ekspres dan PalTV), bakal menggelar pergelaran wayang kulit semalam suntuk di TVRI Stasiun Palembang, Sabtu (18/10) pukul 21.00 Wib. Pak Parno, demikian sapaan sehari-hari bakal memainkan lakon ‘’Wahyu Pangayoman’’ dengan didampingi sinden bule dari Amerika Serikat (AS) Karen Elizabeth Sekar Arum dan pelawak kondang Gareng Sumarbagyo dan Bagong dari Semarang.

-------------------------------

Pergelaran wayang kulit semalam suntuk ini selain program rutin Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Komisariat Daerah (Komda) Kota Palembang dalam upaya melestarikan budaya leluhur yang sudah memperoleh pengakuan Unesco sebagai budaya agung dunia, juga dalam rangka tiga tahun kepengurusan Pepadi Komda kota Palembang dibawah kepemimpinan H Suparno Wonokromo.

Menurut Ketua Panitia Pelaksana, Triyono Junaidi, didampingi Yatin Hadi Karsono, wakil ketua pelaksana, pergelaran ini sebenarnya tidak terkait oleh moment apapun. Ki Suparno Wonokromo sendiri hanya hobi wayang. Kapanpun bisa mendalang tanpa terikat oleh ruang dan waktu. Bahkan sebelumnya, Suparno berencana mau mendalang di Jawa Pos Surabaya (markas besar Jawa Pos News Network-JPNN).

‘’Rencana tampil di TVRI Palembang ini bersifat spontan dari pembicaraan kru TVRI beberapa waktu lalu, langsung disambut Pak Parno dengan senang hati. Tentu saja rencana sebelumnya disiapkan untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan RI dan HUT TVRI, namun karena waktunya sudah lewat, acara ini akhirnya digelar sebagai acara budaya biasa, Untuk itulah kami selaku panitia, menghimbau kepada para penggemar wayang kulit, bahwa informasi ini sekaligus sebagai undangan.’’ ujar Yatin.

Secara periodik, kegiatan Pepadi Komda Kota Palembang pada tahun pertama kepengurusan, sukses menggelar Festival Wayang Kulit se-Kota Palembang yang dilanjutkan penampilan para dalang di RRI Palembang selama setahun. Kegiatan berikutnya Sarasehan Dalang Wayang Kulit 2008 dengan mendatangkan dalang Kondang Ki Manteb Sudarsono, Ki Sudirman Ronggo Darsono, dan Ki Putut Wijonarko. Pada penutupan Sarasehan, tiga ‘suhu’ perwayangan itu tampil kolaborasi yang cukup dahsyat. Pada tahun ketiga ini, ‘gayung pun bersambut’ bersama TVRI melakukan pergelaran wayang kulit semalam suntuk yang disiarkan secara live.

‘’Diharapkan ini merupakan awal yang baik dalam rangka turut serta melestarikan seni budaya Indonesia yang adi luhung. Seni pedalangan dan wayang adalah satu bentuk seni budaya Indonesia yang memiliki peranan penting dalam pembentukan kebudayaan nasional, karena selain mempunyai latar belakang sejarah yang panjang, nilai-nilai luhur, yang sangat mendukung pembangunan moral,’’ jelas Yatin.

Sebagai seniman dan mantan wartawan kriminal Metrojaya, Suparno Wonokromo, sudah cukup kenyang dengan berbagai hal, terutama seputar kisah-kisah heroik maupun perilaku hitam-putih. Dari sanalah Suparno terbiasa membaca karakter, yang kemudian dituangkan dalam bentuk berita. Bahkan si jago penulis feature dan berita boks Jawa Pos ini, mulai menemukan atmosfir baru kebebasan lewat ‘’negeri’’ antah berantah (pewayangan—Red). Disinilah Suparno ‘puas’ memainkan ragam karakter untuk dibeber mana yang baik dan mana yang buruk, untuk kemudian diambil hikmahnya sebagai filterisasi dalam hidup bermasyarakat.

‘’Inilah kekuatan seni pedalangan, selain bisa memberikan tiontonan murah meriah, juga bisa memberikan tuntunan. Masyarakat bisa mengambil hikmah dari lakon yang dimainkan dalang,’’ lanjut Yatin.

Sementara Suparno sendiri mengaku bahwa kemampuan mendalang selama ini hanyalah hobi dan tidak belajar secara khusus, melainkan autodidak. ‘’Saya sejak kecil suka nonton wayang. Bapak saya juga bukan dalang. Seni pedalangan ini memiliki kekuatan memainkan karakter dan kaya dengan wawasan. Selain itu juga bisa dijadikan media tradisional yang sangat ampuh untuk menyampaikan pesan-pesan social yang bermanfaat bagi masyarakat. Yang terpenting pergelaran ini sebagai bagian pelestari budaya Indonesia agar jangan sampai punah ditelan zaman,’’ ujar Suparno.

Tak heran seni budaya wayang secara umum akhirnya diakui dunia Internasional sebagai karya agung dan menjadi bagian dari seni budaya internasional lewat badan dunia PBB, Unesco. Orang-orang Jepang , Belanda dan Amerika pun sudah banyak yang belajar mendalang. ‘’Kalau bangsa asing saja mau belajar dan ingin mengerti tentang seni budaya wayang, kok bangsa kita sendiri kurang peduli. Ini bisa kualat,’’ ujar Suparno.

Perkembangan seni pedalangan dan wayang kulit di Palembang dalam kurun tiga tahun ini , juga cukup mengagetkan para tokoh pedalangan Indonesia, bahkan luar negeri. Seperti utusan badan PBB dari Jepang, sempat mengunjungi kantong-kantong seni pedalangan di kota Palembang, termasuk wayang Palembang yang sempat ‘’punah’’ (*)

Kamis, 07 Agustus 2008

WAYANG KULIT PALEMBANG

Setelah Dua Kali Mati Suri,

Wayang Palembang Hidup Lagi


* R Dalyono ‘Penyelamat’ Wayang Palembang


Setelah dua kali sempat ‘mati suri’ (setengah mati--Red), kini wayang kulit Palembang hidup lagi. Kehidupan wayang Palembang meski tidak sesempurna seperti yang dibawa para dalang terdahulu, namun wayang Palembang sudah bisa dikatakan ada wujudnya. Penjelmaan wayang Palembang yang kini menjadi lebih cantik, tidak sesederhana yang dibayangkan, karena upaya untuk hidup kembali harus melalui perjuangan panjang yang berliku menembus jantung dunia, yaitu lewat UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation.). Akhirnya wayang Palembang yang dulu dibuat langsung oleh Dalang terdahulu dalam bentuk wayang beber yang kasar, kini wayang Palembang sudah tampil lebih cantik.

-------------------------------------

‘Pertarungan’ antara hidup dan mati mempertahankan karya seni tradisional yang telah tercatat di dunia internasional sebagai karya seni budaya yang adiluhung itu, tak lepas peranserta R Dalyono. Pria yang kini usianya mencapai 60 tahun itu, merupakan anggota SENAWANGI (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia). Tidak mudah menghidupkan wayang Palembang, karena harus melalui kerja keras. Selain para dalang asli wayang kulit Palembang sudah meninggal sebelum sempat mewariskan ke generasinya, wujud wayangnya sendiri telah banyak yang lapuk dimakan usia dan segala peralatan pengrawit juga sudah pada hilang. Maka wayang Palembang ini sempat ‘musnah’ bersamaan dengan meninggalnya para dalang terdahulu.

‘’Untuk mengumpulkan kembali wayang kulit Palembang yang masih tersisa, butuh waktu yang lama. Butuh kesabaran, karena pelaku seni, terutama dalang dan pengrawit, wayang kulit Palembang sudah meninggalkan seni tradisional itu sendiri.,’’ ujar R Dalyono kepada Sumatera Ekspres usai rapat pergelaran Wayang Kulit Palembang di Gedung Wanita Palembang, Rabu (14/5).

Pada 1976, kegiatan pergelaran wayang kulit Palembang masih ada, meski frekwensi pergelarannya sangat rendah. Sebulan belum tentu ada pergelaran. Baru pada 1978, wayang kulit Palembang berusaha untuk dihidupkan kembali seiring dengan digelarnya Pekan Wayang Indonesia ke tiga di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Ki Agus Rosyid bin Abdul Roni, adalah dalang wayang Palembang yang kondang pada era 1960-an itu, selalu ikut kegiatan Pekan Wayang. Bahkan almarhum juga pernah mendalang di Istana Presiden tahun 1978.

Almarhum Ki Agus Rosyid adalah orang tua Ki Agus Rusdi Rosyid, salah satu dalang wayang kulit Palembang terakhir yang menguasai permainan wayang kulit Palembang dan meninggal pada tahun 2002.

‘’Almarhum Ki Agus Rusdi Rasyid disebut sebagai dalang terakhir karena menguasai permainan wayang kulit Palembang. Adapun dalang-dalang lain seperti Syekh Hanan dan Ki Agus Umar, juga sudah meninggal,’’ tutur Dalyono.

Sebenarnya masih ada dalang lain yang tersisa, yaitu Sukri Ahkab, yang pernah menjadi Kepala Stasiun RRI Palembang. Namun, Sukri sudah pindah dari Palembang beberapa tahun lalu ke pulau Jawa, kemudian pindah tugas lagi ke Bali. Untuk melanjutkan warisan leluhur itu, maka R Dalyono menunjuk Agus Wirawan, anak tertua Ki Agus Rusdi Rosyid, cucu Ki Agus Rosyid, sebagai ahli waris, sekaligus sebagai ‘penyelamat’ kesenian tradisional wayang kulit Palembang.

Upaya mengangkat Agus Wirawan sebagai dalang wayang kulit Palembang ini, tampaknya juga tidak mulus. Banyak tantangan yang harus dihadapi, terutama peralatan wayang yang sudah lapuk dan tidak mungkin lagi bisa dimainkan lagi. Maka R Dalyono mengajukan usul kepada pemerintah kota (pemkot) Palembang untuk menduplikat wayang Palembang yang telah rusak itu. Akhirnya pada tahun 1985 disetujui dan sebanyak 20 tokoh wayang berhasil di buat. Lagi-lagi wayang kulit Palembang mengalami nasib tragis, karena seluruh wayang hasil duplikat habis terbakar pada tahun 1986 atau setahun setelah wayang itu diduplikat. Penderitaan wayang kulit Palembang ini makin lengkap setelah beberapa alat-alat pengrawitnya juga kececeran entah ke mana. Ditambah lagi para pengrawitnya juga tidak jelas tinggal di mana.

Dalyono tidak putus asa untuk mewujudkan mimpinya menghidupkan wayang kulit Palembang yang tumbuh sejak pertengahan abad 19 Masehi itu. Pada Sarasehan Wayang Indonesia di Jogjakarta pada tahun 2000, Dalyono bertemu utusan dari UNESCO, badan dunia untuk urusan pendidikan dan kebudayaan, yaitu Karen Smith (wanita asal Australia yang menetap di Amerika) dan Yushi Simishu (pria asal Jepang yang menetap di Paris, markasnya UNESCO).

Menurut Dalyono, kebetulan sejak 1989 UNESCO memusatkan perhatian kepada perlindungan budaya tradisional. Di mana-mana disebarluaskan upaya pelestarian dan pengembangan budaya tradisional, juga termasuk adat istiadat dan kesenian di Indonesia. Pada tahun 1997 UNESCO sudah menyusun peraturan mengenai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity (Karya-karya Agung Lisan Tak Benda Warisan Manusia) dengan tujuan: meningkatkan kesadaran masyarakat dunia terhadap nilai warisan budaya. Mengevaluasi dan mendaftar situs dan warisan budaya. Membangkitkan semangat pemerintah negara supaya mengambil tindakan-tindakan hukum dan administrasi guna melestarikan warisan budaya dan lain-lain.

Setelah bekerja keras dalam jangka waktu yang cukup lama, maka semua persyaratan UNESCO tersebut dapat terpenuhi semuanya oleh SENAWANGI sebagai pengemban tugas ‘menjaga’ seni tradisional dan mempersiapkan 5 jenis wayag yang mewakili untuk diteliti yaitu: wayang kulit purwa Jawa dari Jawa Tengah, wayang parwa Bali dari Bali, wayang golek Sunda dari Jawa Barat, wayang Palembang dari Sumatera Selatan, dan wayang Banjar dari Kalimantan Selatan. Kemudian
Wayang Indonesia diproklamasikan oleh UNESCO sebagai karya agung budaya dunia pada tanggal 7 November 2003, di Paris Perancis.

Bersamaan dengan pengukuhan wayang sebagai budaya dunia, pada tahun 2004, Ki Agus Wirawan, putra pertama Ki Agus Rusdi Rosyid, langsung mendapat sumbangan dari UNESCO berupa seperangkat wayang kulit Palembang. Wayang kulit ini merupakan hasil duplikat wayang kulit Palembang asli yang berada di Museum Wayang Indonesia.

Kini masyarakat pecinta wayang kulit Palembang sudah bisa menikmati serunya Ki Wirawan membanyol dengan logat bahasa Palembangnya. Tentu saja masih banyak perbedaan yang dilakukan Ki Agus Wirawan dengan gaya bapaknya. Setidaknya Ki Agus Wirawan telah menemukan kembali ‘ruh’ wayang kulit Palembang di tengah-tengah masyarakat.

Dalyono dan Wirawan adalah seniman yang ingin menyelamatkan kesenian tradisi dari kepunahan. Dan merekalah yang telah menemukan kembali wayang kulit Palembang yang sudah 10 tahun menghilang. Jika tak ada perhatian dari pemerintah dan masyarakat Palembang, bisa dipastikan wayang kulit Palembang kembali ‘punah’. (t junaidi)

DULMULUK

Faktor Ekonomi, Seni Tardisional

Dulmuluk Krisis Generasi



Teater tradisional Sumatera Selatan--Dulmuluk, terancam ‘punah’. Teater rakyat yang disela-sela dialog penting selalu menggunakan pantun bersahut itu, beberapa tahun belakangan jarang tampil di depan publik Palembang. Dulmuluk seperti telah kehilangan pemainnya seiring dengan kemajuan teknologi dan budaya pop ditengah masyarakat. Orang tak lagi menanggap Dulmuluk sebagai tontonan dalam rangka memeriahkan hajatan, misalnya khitanan, pernikahan atau cukuran bayi. Masyarakat lebih sering mengundang organ tunggal sebagai hiburan untuk memeriahkan acara tersebut. Jika kondisi ini terus berlarut-larut tanpa langkah pelestarian, seni teater tradisional yang lahir sejak awal abad 20 itu terancam punah.

----------------------------------

Muhsin Fajri, Ketua Umum Himpunan Teater Tradisional Sumatera Selatan (HTTS), mengatakan, pementasan Dulmuluk ini masih ada, namun tidak seperti era 60 dan 90-an, yang merupakan dua dekade kejayaan teater tradisional Dulmuluk. Pada era 60-an, boleh dikata seni teater Dulmuluk telah menemukan formasi pementasannya dengan menampilkan beberapa pemeran untuk memerankan tokoh-tokoh dalam cerita Dulmuluk. Sehingga masyarakat tak lagi sekedar mendengar sebuah cerita (pendongeng), yang mengisahkan cerita percintaan antara putri raja dan rakyat jelata. Teater Dulmuluk ini kalau di Jawa Tengah mirip Ketoprak atau kalau Jawa Timur Ludruk. Durasi permainannya bisa semalam suntuk seperti wayang kulit Jawa. Tapi bisa juga dipersingkat menjadi 2 jam saja.

‘’Pada era 90-an, Dulmuluk makin popular karena berhasil dikemas dalam layar kaca televisi, baik lokal maupun nasional. Tak hanya itu, Dulmuluk juga masuk program ekstrakulikuler di sekolah-sekolah. Maka pernah ngetop dengan munculnya beberapa grup teater Dulmuluk di sekolah-sekolah,’’ ujar Muhsin.

Masa kejayaan Dulmuluk yang terbilang cukup lama itu, benar-benar menjadi tontonan primadona masyarakat Sumsel. Hampir semua masyarakat di penjuru kota dan desa tahu tentang Dulmuluk. Bahkan wilayah penyebarannya sampai ke pulau Bangka (yang dulu masuk wilayah provinsi Sumsel).

Menurut Muhsin, munculnya Dulmuluk ini semula dimainkan saudagar Gujarat pada malam-malam sehabis berniaga. Konsep awalnya hanyalah sebuah dongeng atau pembacaan kisah petualangan Abdul Muluk Jauhari, anak Sultan Abdul Hamid Syah yang bertakhta di Negeri Berbari. Kisah yang dicuplik dari buku Syair (Sultan) Abdul Muluk karangan penulis perempuan bernama Saleha itu ternyata menarik perhatian sebagian masyarakat Palembang.

Sejak itulah Wan Bakar kerap diundang untuk membacakan kisah-kisah tentang Abdul Muluk pada berbagai kesempatan, termasuk untuk memeriahkan acara perkawinan, khitanan, atau syukuran saat pertama mencukur rambut bayi. Sosok Wan Bakar ini kemudian sangat popular melisankan cerita dalam bahasa Melayu klasik atau pantun-pantun bertutur, misalnya perkataan raja kepada perdana menteri:

Wahai Perdana Menteri yang bijak bestari / Dengan sebenar saya berperi / Kau terangkan keadaan ini negeri / Supaya beta dapat mengetahui.

Lalu dijawab perdana menteri: Wahai tuanku raja yang bijak bestari / Dengan sebenar saya berperi / Tuanku menanyakan ini negeri / Negeri kita ramai setiap hari.

Seni bertutur ini akhirnya berkembang dengan menampilkan sejumlah pemain untuk memerankan tokoh-tokoh tertentu, misalnya Raja, Perdana Menteri, Rakyat dan Khadam (tokoh banyol seperti goro-goro dalam wayang kulit). Pada tahun 1919, tercatat pertama kali pembacaan teks dibawakan dalam bentuk dialog disertai gerak tubuh sesuai peran masing-masing. Dulmuluk akhirnya berkembang pesat sebagai satu-satunya hiburan yang cukup menarik di kalangan masyarakat Sumstaera Selatan. Wajar bila akhirnya Dulmuluk ini ramai diikuti generasi penerusnya dan selalu dipadati penggemarnya.

Job manggung pada era 90-an benar-benar laris manis. Tak hanya diwilayah Palembang, tetapi juga di luar Palembang, bahkan Dulmuluk sempat tampil di televisi pusat (Jakarta), Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jogjakarta, dan Bali. Dengan semakin jayanya di tengah masyarakat, Dulmuluk sempat menjadi perdebatan antara seniman muda dan seniman tua mengenai eksistensi sebuah seni tradisional. Dulmuluk yang selama ini dikenal sebagai seni yang mengedepankan pakem Dulmuluk, kemudian diangkat dilayar kaca televisi dengan gaya kontemporer oleh Djaid Saidi Jaka, murid sastrawan kondang Rendra. Lakon yang diangkat dalam Dulmuluk biasanya istana centris Zahra Siti dan lain-lain. Namun oleh Djaid, Dulmuluk yang diangkat adalah Dulmuluk kontemporer dengan lakon Raja Bahlul, yang berarti goblok, tolol, gendeng atau sableng.

Jonhar Saat, seniman tradisional Dulmuluk, pada saat pertemuan Forum seniman Sriwijaya di Hotel Paradise Palembang, mengatakan, lesunya pementasan teater tradisional Dulmuluk karena banyak factor. Pertama pemain tua sudah banyak yang tidak mau mengurusi lagi karena factor ekonomi.

‘’Selama ini kita giat melatih generasi muda agar bisa melanjutkan kesenian ini. Tapi kadang kita nggak ingat kalau dirumah ada beras atau tidak. Ini karena kecintaan saya pada kesenian tradisional Dulmuluk. Saya setuju Dulmuluk dikontemporerkan agar bisa menembus selera muda,’’ ujar Jonhar.

Alasan Jonhar, 10 tahun ke depan, siapa yang mau nonton Dulmuluk. Konsep panggung harus dibangun lebih hidup. Bila memasukan unsure modern, itupun tidak merombak pakem yang ada. ‘’Kita maunya jangan terjebak warna lokal, tapi kita bisa memberikan sesuatu yang segar dengan unsure modern,’’ lanjut Jonhar.

Benar, kini Dulmuluk sudah sulit ditemui di setiap kesempatan, baik hajatan pernikahan maupun acara-acara tertentu. Bahkan di televisi lokal juga tak terlihat lagi ada program tayangan seni Dulmuluk. Kecuali acara pemerintah yang sepertinya ‘terpaksa’ menampilkan Dulmuluk agar tidak dibilang tak peduli. (t junaidi)

DALANG CILIK

Tri Susanto, Wakil Sumsel di Festival Dalang Bocah Nasional
Kuasai Dalang Sejak Usia 8 tahun

Prestasi gemilang dilakukan Jansen Robertus Tri Susanto, anak ketiga Yohanes Suparso dan Maria Mahdalena. Dia bakal tampil membawabendera Sumsel dalam ajang Festival Dalang Bocah Tingkat Nasional di Jakarta, 21-23 Juli mendatang. ADE ROSAD - Martapura


SEDERHANA dalam berpenampilan, ramah saat menyapa serta santun manakala berucap. Ciri inilah terlihat terlihat dari sosok anak desa yang jauh dari hiruk pikuk kebisingan kota. Tri, sapaannya, tinggal di Desa Kuto Mulyo, Rt 01 Rw 01 Kecamatan Semendawai Timur, OKU Timur. Lokasi desanya dikelilingi hamparan sawah dan perkebunan karet atau sekitar 90 km dari Kota Martapura.
Tri yang berusia 13 tahun ini mampu memperagakan wayang selayaknya dalang mumpuni. Kepiawaiannya berdalang membuat dia dipercaya mewakili Sumsel dalam Festival Dalang Bocah tingkat Nasional di Jakarta 21-23 Juli mendatang. Tri yang merupakan satu-satunya utusan Sumsel ini bakal bersaing ketat bersama 32 dalang bocah se-Indonesia. Tak sulit untuk menemui bocah yang berperawakan tinggi dengan kulit hitam manis ini. Apalagi Tri tergolong anak yang pintar bergaul. Wartawan Koran ini kemarin sekitar pukul 09.15 WIB berhasil menemuinya di SMK Xaverius 1 Belitang.
“Bapak bisa ketemu saya langsung saat MOS, kepala sekolah pasti mengizinkannya,’’ ujarnya. Untuk diketahui, kemahiran memainkan wayang merupakan bakat turun menurun. Hanya saja, Tri sudah menguasai keterampilan ini sejak umur 8 tahun saat duduk di bangku kelas 2 SDN Kuto Mulyo. Kakeknya bernama Yusuf Guno Yoso juga merupakan dalang. ‘’Saya sendiri belajar memainkan wayang dari ayah Yohanes Suparso. Dari belajar inilah membuat saya mampu memiliki retorika penyampain yang lugas, padat dan jelas,’’ jelasnya.
Tri mengaku, sudah 40 kali ikut mendalang mendampingi ayahnya saat ada undangan atau hajatan di kawasan Belitang atau luar daerah. ‘’Kalau khusus saya sendiri, baru 3 kali tampil dengan durasi waktu antara 1,5 jam hingga 4 jam lebih,’’ papar Tri.
Dengan membiasakan diri ikut tampil, lanjutnya, memberikan manfaat besar hingga mampu memainkan lakon dalam setiap pertunjukan. “Selain ayah saya. Saya juga dibimbing Pak Katiman hingga sekarang”, tandasnya. Adik kandung Teresia Purwati dan Mekael Dwi Astuti ini mempunyai obsesi ingin menjadi pengusaha sukses.
‘’Karenanya saya sekolah di kejuruan, dengan harapan mampu berkiprah dalam dunia bisnis,’’ ujarnya. Soal keterampilannya memainkan wayang, dirinya mengatakan hal itu bisa dilakoni tanpa harus menyingkirkan cita-citanya.
‘’Saya ingin mengubah hidup untk bias lebih maju,’’ ujarnya. Dalam Festival Dalang Bocah tingkat Nasional, Tri Susanto bakal memainkan lakon Wahyu Mahkuto Romo yang artinya wahyu yang diberikan kepada Arjuna.
Pada ajang yang tergolong langka ini, peserta diharuskan menyampaikan lakon selama 1 jam. “Saya sempat stress juga, sebab lakon yang saya mainkan ini nanti setidaknya berkisar 6 jam. Tapi, panitia minta hanya 1 jam dengan penyampaian yang lengkap,’’ terangnya.
Untuk itulah, dirinya terus berlatih hingga 5 kali dengan Pak Sukiman yang akhirnya mampu mempersingkat waktu menjadi 1 jam sesuai permintaan panitia. Lakon yang nanti akan dimainkan, secara tidak langsung memberikan makna penting dalam kehidupan bermasyarakat yang memiliki seorang pemimpin. Dimana, pemimpin harus bisa mengayomi rakyatnya sebagaiman layaknya seorang Arjuna ketika itu. Dirinya rela mencari wahyu dan petunjuk demi untuk rakyatnya meski harus bertapa di gunung Kuto Runggu atau Solo Giri yang jauh dari keramaian.
Arinya cerita tersebut menggambarkan bahwa kejahatan itu tidak dapat mengalahkan kebaikan. Apapun cara yang akan dilakukannya. Meski dalam meraih kebaikan itu harus dihadapkan dalam berbagai ujian, dan wahyu mahkuto romo akan hadir pada diri orang yang sukses. “Kita sederhanakan saja kata wahyu itu menjadi sebuah kesuksesan yang diraih orang lain, untuk meraih sukses diperlukan perjuangan sebagaimana zaman Arjuna dalam mencari wahyu”, jelasnya. (*)